Kamis, 20 Desember 2018

Pengembangan sistem dengan proses SDLC (System development life cycle)

Model-Model Dan Pengertian Software Engineering









1. Waterfall

2. V-Model

3. Simple Interaction Design Model ( Model Rancangan Interaksi Sederhana )

4. Star Lifecycle Model (Hartson & Hix, 1989)



1.     Model Waterfall

          Model Waterfall ini awalnya ditemukan oleh Winston W. Royce pada tahun 1970 . Dia menulis sebuah artikel ilmiah yang berisi pandangan pribadinya pada pengembangan perangkat lunak . Pada paruh pertama dari artikel, ia membahas sebuah proses yang dia sebut ” megah ” . Dia bahkan menggambar sosok model , dan lain yang menunjukkan mengapa hal itu tidak bekerja ( karena persyaratan selalu berubah ) . Model ini adalah air terjun . Dia menggunakannya sebagai contoh dari proses yang sama sekali tidak bekerja. Di paruh kedua artikel ia menggambarkan proses berulang-ulang bahwa ia dianggap jauh lebih baik.

         Nama model ini sebenarnya adalah “Linear Sequential Model”. Model ini sering disebut dengan “classic life cycle” atau model waterfall. Model ini sering dianggap kuno, tetapi merupakan model yang paling banyak dipakai didalam Software Engineering (SE). Model ini melakukan pendekatan secara sistematis dan urut mulai dari level kebutuhan sistem lalu menuju ke tahap analisis, desain, coding, testing / verification, dan maintenance. Disebut dengan waterfall karena tahap demi tahap yang dilalui harus menunggu selesainya tahap sebelumnya dan berjalan berurutan. Sebagai contoh tahap desain harus menunggu selesainya tahap sebelumnya yaitu tahap requirement. Berikut gambar model waterfall. 




Gambar: Model Waterfall


Pengertian Waterfall

            Waterfall adalah suatu metodologi pengembangan perangkat lunak yang mengusulkan pendekatan kepada perangkat lunak sistematik dan sekuensial yang mulai pada tingkat kemajuan sistem pada seluruh analisis, design, kode, pengujian dan pemeliharaan.

Langkah-langkah yang harus dilakukan pada metodologi Waterfall

1.   Requirement Analysis

       Seluruh kebutuhan software harus bisa didapatkan dalam fase ini, termasuk didalamnya kegunaan software yang diharapkan pengguna dan batasan software. Informasi ini biasanya dapat diperoleh melalui wawancara, survey atau diskusi. Informasi tersebut dianalisis untuk mendapatkan dokumentasi kebutuhan pengguna untuk digunakan pada tahap selanjutnya.

2.  System Design

      Tahap ini dilakukan sebelum melakukan coding. Tahap ini bertujuan untuk memberikan gambaran apa yang seharusnya dikerjakan dan bagaimana tampilannya. Tahap ini membantu dalam menspesifikasikan kebutuhan hardware dan sistem serta mendefinisikan arsitektur sistem secara keseluruhan.

3.  Implementation

      Dalam tahap ini dilakukan pemrograman. Pembuatan software dipecah menjadi modul-modul kecil yang nantinya akan digabungkan dalam tahap berikutnya. Selain itu dalam tahap ini juga dilakukan pemeriksaaan terhadap modul yang dibuat, apakah sudah memenuhi fungsi yang diinginkan atau belum.

4.  Integration & Testing

      Di tahap ini dilakukan penggabungan modul-modul yang sudah dibuat dan dilakukan pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah software yang dibuat telah sesuai dengan desainnya dan masih terdapat kesalahan atau tidak.

5.  Operation & Maintenance

      Ini merupakan tahap terakhir dalam model waterfall. Software yang sudah jadi dijalankan serta dilakukan pemeliharaan. Pemeliharaan termasuk dalam memperbaiki  kesalahan yang tidak ditemukan pada langkah sebelumnya. Perbaikan implementasi unit sistem dan peningkatan jasa sistem sebagai kebutuhan baru.

Keuntungan  Waterfall


    ·   Kualitas dari sistem yang dihasilkan akan baik. Ini dikarenakan oleh pelaksanaannya secara                 bertahap. Sehingga tidak terfokus pada tahapan tertentu.

    ·   Document pengembangan system sangat terorganisir, karena setiap fase harus terselesaikan                dengan lengkap sebelum melangkah ke fase berikutnya. Jadi  setiap fase atau tahapan akan                  mempunyai dokumen tertentu.

    ·   Metode ini masih lebih baik digunakan walaupun sudah tergolong kuno, daripada menggunakan          pendekatan asal-asalan. Selain itu, metode ini juga masih masuk akal jika kebutuhan sudah                  diketahui dengan baik.


Kelemahan Waterfall

    ·   Diperlukan majemen yang baik, karena proses pengembangan tidak dapat dilakukan secara                 berulang sebelum terjadinya suatu produk.

    ·   Kesalahan kecil akan menjadi masalah besar jika tidak diketahui sejak awal pengembangan                 yang berakibat pada tahapan selanjutnya.

    ·   Pelanggan sulit menyatakan kebutuhan secara eksplisit sehingga tidak dapat mengakomodasi              ketidak pastian pada saat awal pengembangan.

    ·   Pelanggan harus sabar, karena pembuatan perangkat lunak akan dimulai ketika tahap desain                sudah selesai. Sedangkan pada tahap sebelum desain bisa memakan waktu yang lama.

    ·   Pada kenyataannya, jarang mengikuti urutan sekuensial seperti pada teori. Iterasi sering terjadi            menyebabkan masalah baru.


Kapan Model Waterfall digunakan?

Teori-teori lama menyimpulkan ada beberapa hal, yaitu:

1.      Ketika semua persyaratan sudah dipahami dengan baik di awal pengembangan.

2.      Definisi produk stabil dan tidak ada perubahan saat pengembangan untuk alasan apapun seperti           perubahan eksternal, perubahan tujuan, perubahan anggaran atau perubahan teknologi. Untuk             itu, teknologi yang digunakan pun harus sudah dipahami dengan baik.

3.      Menghasilkan produk baru, atau versi baru dari produk yang sudah ada. Sebenarnya, jika                     menghasilkan versi baru maka sudah masuk incremental development, yang setiap tahapnya               sama dengan Waterfall kemudian diulang-ulang.

4.      Porting produk yang sudah ada ke dalam platform baru.

Dengan demikian, Waterfall dianggap pendekatan yang lebih cocok digunakan untuk proyek pembuatan sistem baru. Tetapi salah satu kelemahan paling dasar adalah menyamakan pengembangan perangkat keras dengan perangkat lunak dengan meniadakan perubahan saat pengembangan. Padahal, galat diketahui saat perangkat lunak dijalankan, dan perubahan-perubahan akan sering terjadi.



2.  V Model


Pengertian V Model

       Merupakan model pengembangan perangkat lunak yang didasarkan pada hubungan antara setiap fase pengembangan siklus hidup yang tercantum dalam model Watterfall yang merupakan pengembangan perangkat lunak dan fase yang terkait pengujian. Bisa dikatakan model ini merupakan perluasan dari model waterfall. Disebut sebagai perluasan karena tahap-tahapnya mirip dengan yang terdapat dalam model waterfall. Jika dalam model waterfall proses dijalankan secara linear, maka dalam model V proses dilakukan bercabang.






Tahapan dalam  V Model

    Tahapan pada V Model dibagi menjadi 2 garis besar yaitu tahap Verifikasi dan Validasi atau testing.
Tahap Verfiikasi mengacu kepada usaha penyesuaian spesifikasi software dengan kebutuhan klien/konsumen, tahapan ini meliputi serangkaian kegiatan sebagai berikut:

1.      Business Case: Merupakan tahapan awal yang menggambarkan kebutuhan/harapan konsumen             terhadap sistem yang akan dikembangkan, termasuk manfaat sistem terhadap konsumen dan               perkiraan biaya yang harus disediakan.

2.      Requirement: pada fase ini klien mendapatkan gambaran atau diminta memberikan gambaran             kebutuhan yang diharapkan dapat dipenuhi oleh software, baik kebutuhan fungsional maupun             non fungsional.

3.      Analisis Informasi: Setelah diperoleh spesifikasi sistem dari fase requirement, selanjutnya                   aktivitas difokuskan bagaimana cara kerja software untuk memenuhi kebutuhan tersebut,                     termasuk metode, hardware dan software apa saja yang diperlukan untuk mencapai kebutuhan             yang sudah didefinisikan.

4.      Perancangan Sistem: pada tahapan ini akan dibuat rancangan software secara lebih terinci                   sesuai spesifikasi yang sudah disepakati.

5.      Unit Design: merancang setiap elemen/unit software termasuk rancangan modul/program,                   antarmuka, database dan lain-lain.

6.      Development: merealisasikan hasil rancangan menjadi satu aplikasi/program tertentu.
         Tahapan Validasi merupakan serangkaian tahapan yang mengacu kepada kesesuaian software               dengan spesifikasi yang sudah ditetapkan. Tahapan ini dicapai melalui serangkaian                               pengujian/testing sebagai berikut:

            ·  Unit test: menguji setiap komponen/unit program apakah sesuai dengan rancangan unit                       yang sudah ditetapkan. Secara teoritis seharusnya pengujian dilakukan oleh orang tertentu                   yang bertugas sebagai software tester, tetapi dalam kenyataannya seringkali unit testing                       dilakukan oleh programmer sendiri.

            ·  Interface test: setelah semua komponen diuji secara terpisah, tahapan selanjutnya dilakukan                 interface test untuk melihat sejauh mana setiap komponen dapat berinteraksi satu sama lain                 sesuai dengan fungsi yang diharapkan.

            ·  System test: setelah semua interface berjalan dengan baik, selanutnya dilakukan system test                 untuk melihat sejauh mana sistem/software dapat memenuhi kebutuhan secara keseluruhan.                 System testing bersifat menyeluruh dan tidak dapat dilakukan berdasarkan fungsionalitas                     sistem yang diuji secara terpisah. Aktivitas pada system testing termasuk melakukan                             pengujian hal-hal berikut:

                      1. Performance – apakah kinerja sistem sesuai dengan target yang sudah didefinisikan                              sebelumnya.

                      2. Volume – apakah software/sistem dapat menampung volume informasi yang cukup                               besar.

                      3. Stress – apakah software/sistem dapat menampung sejumlah informasi pada waktu-                              waktu tertentu.

                      4. Documentation – apakah semua dokumentasi penting sudah disiapkan.

                      5. Robustness – apakah software/sistem cenderung stabil pada berbagai kondisi diluar                              dugaan/ekstrim.

            ·  Acceptance test merupakan aktivitas untuk menguji sejauh mana sistem/software dapat                       membantu memecahkan business case, dalam artian apakah sistem/software tersebut sudah                 sesuai dengan harapan konsumen/klien dan sejauh mana manfaat sistem/software ini bagi                   klien. Test ini sering kali disebut sebagai User Acceptance Test (UAT).

            ·  Release testing: test ini dilakukan untuk menguji sejauh mana sistem/software dapat                             mendukung aktivitas organisasi dan berjalan dengan harmonis sesuai dengan kegiatan rutin                 organisasi. Beberapa pertanyaan coba dijawab pada fase ini misalnya apakah software                         tersebut mempengaruhi sistem lain? Apakah software tersebut kompatibel dengan sistem                     lain? Bagaimana kinerja sistem sebenarnya di dalam organisasi?

 Kelebihan V model:

          ·   V model sangat fleksibel. V model ini bisa digunakan untuk project tailoring serta                                 penambahan pengurangan method dan tool secara dinamik.

          ·   V model dikembangkan dan di maintain oleh publik. User dari V model berpartisipasi                           dalam change board yang memproses semua change request terhadap V model.


Kekuranagn V model :

          ·   V model hanya bisa digunakan sekali dalam suatu proyek hal tersebut disebabkan kerena V                 model merupakan model yang project oriented.

          ·   V model bersifat terlalu fleksibel sehingga mengakibatkan beberapa aktivitas-aktivitas yang                digambarkan dalam V model menjadi terlalu abstrak. Hal tersebut mengakibatkan tidak bisa                diketahui dengan jelas apa yang termasuk dalam activity tersebut dan apa yang tidak.


          Model ini merupakan perluasan dari model waterfall. Disebut sebagai perluasan karena tahap-tahapnya mirip dengan yang yang
dalam model waterfall. Jika dalam model waterfall proses dijalankan secara linier, maka dalam model V proses dalikukan bercabang dalam
model V ini digambarkan hubungan antara tahap pengembangan software dengan tahap pengujiannya.

          Bisa dikatakan model ini merupakan perluasan dari model waterfall. Disebut sebagai perluasan karena tahap-tahapnya mirip dengan
yang terdapat dalam model waterfall. Jika dalam model waterfall proses dijalankan secara linear, maka dalam model V proses dilakukan
bercabang. Dalam model V ini digambarkan hubungan antara tahap pengembangan software dengan tahap pengujiannya.


2. Fase fase dalam V model

a.  Requirement Analysis & Acceptance Testing

       Tahap Requirement Analysis sama seperti yang terdapat dalam model waterfall. Keluaran dari       tahap ini adalah dokumentasi kebutuhan pengguna.
 Acceptance Testing merupakan tahap yang akan mengkaji apakah dokumentasi yang dihasilkan tersebut dapat diterima oleh para pengguna atau tidak.

b.  System Design & System Testing

     Dalam tahap ini analis sistem mulai merancang sistem dengan mengacu pada dokumentasi kebutuhan pengguna yang sudah dibuat pada tahap sebelumnya. Keluaran dari tahap ini adalah spesifikasi software yang meliputi organisasi sistem secara umum, struktur data, dan yang lain. Selain itu tahap ini juga menghasilkan contoh tampilan window dan juga dokumentasi teknik yang lain seperti Entity Diagram dan Data Dictionary.

c.  Architecture Design & Integration Testing

    Sering juga disebut High Level Design. Dasar dari pemilihan arsitektur yang akan digunakan berdasar kepada beberapa hal seperti: pemakaian kembali tiap modul, ketergantungan tabel dalam basis data, hubungan antar interface, detail teknologi yang dipakai.

d.  Module Design & Unit Testing

     Sering juga disebut sebagai Low Level Design. Perancangan dipecah menjadi modul-modul yang lebih kecil. Setiap modul tersebut diberi penjelasan yang cukup untuk memudahkan programmer melakukan coding. Tahap ini menghasilkan spesifikasi program seperti: fungsi dan logika tiap modul, pesan kesalahan, proses input-output untuk tiap modul, dan lain-lain.

e.  Coding

      Dalam tahap ini dilakukan pemrograman terhadap setiap modul yang sudah dibentuk.
V Model memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan-kelebihan tersebut secara garis besar dapat dijelaskan seperti berikut:

         ·  V Model sangat fleksibel. V Model mendukung project tailoring dan penambahan dan                         pengurangan method dan tool secara dinamik.

         ·  Akibatnya sangat mudah untuk melakukan tailoring pada V Model agar sesuai dengan suatu                proyek tertentu dan sangat mudah

         ·   untuk menambahkan method dan tool baru atau menghilangkan method dan tool yang                         dianggap sudah obsolete.

         ·  V Model dikembangkan dan di-maintain oleh publik. User dari V Model berpartisipasi dalam               change control board yang memproses

         ·   semua change request terhadap V Model.


Kekurangan V model

      V Model juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan-kekurangan tersebut yaitu:

             ·  V Model adalah model yang project oriented sehingga hanya bisa digunakan sekali dalam                     suatu proyek.

             ·  V Model terlalu fleksibel dalam arti ada beberapa activity dalam V Model yang                                    digambarkan terlalu abstrak sehingga tidak bisa

             ·   diketahui dengan jelas apa yang termasuk dalam activity tersebut dan apa yang tidak.







3. SIMPLE INTERACTION DESIGN MODEL LIFECYCLE SOFTWARE

          Simple Interaction Design Model Lifecycle Software adalah model yang menggabungkan tiga prinsip pengguna berpusat desain dan empat kegiatan desain interaksi.
Prinsip User-Centered Design Prinsip-prinsip ini dikembangkan oleh John D. Gould dan Clayton Lewis. prinsipnya adalah sebagai berikut:

           1. Fokus pada pengguna dan tugas
           2. Pengukuran empiris
           3. Desain Interatif
Dasar kegiatan Desain Interaksi Preece et al. menggambarkan model dasar untuk proses desain interaksi yang mencakup empat kegiatan seperti yang ditunjukkan di bawah  ini. Sejumlah akademisi dan lembaga desain terkenal telah menciptakan model yang sama. Zimmerman, J., Forlizzi, J.,dan Evenson, S., dari Sekolah Desain di Carnegie Mellon University.
Kegiatannya adalah sebagai berikut:

          1. Mengidentifikasi kebutuhan dan persyaratan mendirikan untuk pengalaman pengguna
          2. Mengembangkan alternatif desain yang memenuhi persyaratan
          3. Membangun versi interaktif dari desain
          4. Mengevaluasi apa yang sedang dibangun di seluruh proses dan pengalaman pengguna yang                menawarkan
Bentuk dari simple interaction design model lifecycle software adalah sebagai berikut:






4.Star Lifecycle Model (Hartson & Hix, 1989)







         Dalam pengembangan software ada bererapa tahapan utnuk mencapai kualitas pembuatan/ siklus hidup software. Dapat kami jabarkan siklus hidup software atau tahap pengembangan software sebagai berikut:

Tahap Pengembangan Software ( Siklus Hidup Software ) :


     a.  Requirements Analysis ( Analisa Kebutuhan )

       Tahap ini menganalisa masalah dan kebutuhan yang harus diselesaikan dengan sistem komputer yang akan dibuat. Tahap ini berakhir dengan pembuatan laporan kelayakan yang mengidentifikasi kebutuhan sistem yang baru dan merekomendasikan apakah kebutuhan atau masalah tersebut dapat diselesaikan dengsn sistem komputer yang ada.


     b.  System and Software Design ( Prencanaan Sistem dan Software )

       Tahap ini melakukan rancangan design sistem. Tahap ini memberikan rincian kinerja program dan interaksi antara user dengan program tersebut.

     c.  Implementation ( Implementasi )
            
        Tahap ini adalah spesifikasi design yang telah dibuat untuk diterjemahkan de dalam program / instruksi yang ditulis dalam bahasa pemrograman.


     d.  System Testing ( Pengujian Sistem )

        Tahap ini semua program digabungkan dan diuji sebagai satu sistem yang lengkap untuk menjamin sumua berkerja dan memenuhi kebutuhan penanganan masalah yang dihadapi.


     e.  Operation and Maintenance ( Pengoperasian dan Pemeliharaan )

        Tahap ini merupakan pengaplikasian program yang telah dibuat untuk digunakan secara utuh dan masalah baru yang muncul sebagai bahan masukan untuk memperbaiki sistem program yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengembangan sistem dengan proses SDLC (System development life cycle)

Model-Model Dan Pengertian Software Engineering 1. Waterfall 2. V-Model 3. Simple Interaction Design Model ( ...